Kepala Badan Pengkajian Obat-obatan dan Makanan (POM), Kustantinah menilai penggunaan gelang kesehatan Power Balance oleh masyarakat lebih dominan karena alasan faktor menyakini atau sugesti ketimbang faktor ilmiah. Karena itu, Kustinah berpandangan masyarakat sebaiknya memperhatikan pertimbangan aspek ilmiah ketika berencana menggunakan produk.
"Selama ini kan masyarakat hanya sekedar meyakini bahwa gelang itu berkhasiat,"
Menurut Kastinah, seharusnya gelang power balance juga harus menampilkan hasil riset ilmiah. Dia pun mencontohkan obat sebagai pembanding. Kastinah mengatakan obat memiliki dasar yang kuat dalam hal aspek ilmiah. Artinya, produsen obat tentu tidak akan sembarang mengatakan bahwa obat yang ditawarkan kepada masyarakat berkhasiat tanpa ada dasar ilmiah dibelakangnya.
"Obat secara jelas menyebutkan berdasarkan hasil riset ilmiah dapat membantu penyembuhan gejala penyakit. Sementara kalau gelang seperti itu jadinya diyakini menyembuhkan penyakit," ujarnya.
Ke depan, Kustantinah menyarankan agar masyarakat lebih mengedepankan pertimbangan ilmiah daripada keyakinan atau sugesti. Menurut dia, berbagai kasus yang terjadi sebelumnya berawal dari sugesti atau keyakinan.
Namun, dia tidak melulu menyalahkan masyarakat lantaran pihak produsen juga harus bertanggung jawab memikirkan konsumennya. Caranya, kata dia, berikan bukti ilmiah yang kuat sehingga masyarakat tahu dan tidak salah pilih.
Update: Gelang Power Balance Ditarik dari Peredaran
Point Break, penjual resmi gelang Power Balance di Indonesia menarik produk tersebut dari seluruh gerainya. "Sejak ada pemberitaan itu, dua hari lalu," ujar Nia, petugas pembelian dan distribusi PT Point Break Indonesia, di kantornya, Kamis (6/1).
Selasa lalu manajemen Power Balance di Australia mengakui belum ada penelitian ilmiah yang mendukung klaim mereka bahwa gelang karet berhologram itu bisa meningkatkan kekuatan dan keseimbangan tubuh pemakai.
Sejak itu, 20 gerai Point Break yang tersebar dari Sumatera sampai Maluku tidak lagi menjual Power Balance. Nia menolak menyebut jumlahnya dengan alasan tidak mengetahui data. "Belum tahu mau diapakan," katanya.
Di konter Point Break Pondok Indah Mal, gelang karet aneka warna itu tidak lagi terlihat. Hesty, petugas gerai, mengaku kebanjiran telepon yang menanyakan perihal retur. Sebab, di Australia, manajemen bersedia membeli kembali Power Balance, asal dilengkapi kotak pembungkus dan bukti pembelian. "Sehari bisa lebih dari sepuluh yang menelpon," ujarnya.
Namun, Point Break belum mengeluarkan keputusan. "Kami masih tunggu konfirmasi dari Power Balance Indonesia," ujar Nia.
Point Break mendapat wewenang penjualan dari PT Kubu Desa Bali, pemegang hak jual Power Balance di Indonesia. Gelang buatan Cina itu mulai dijual di Indonesia pada 2008, dengan harga Rp 395 ribu. Nia juga menolak menyebut total penjualan. "Itu data internal perusahaan," katanya.


No comments:
Post a Comment