TrafficRevenue
Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Wednesday, June 15, 2011

Gerhana Bulan Jangan Dimaknai Pertanda Musibah

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
JAKARTA - Gerhana bulan akan terjadi dini hari nanti mulai pukul 01.23 WIB hingga 05.02 WIB. Fenomena alam ini bisa dilihat secara kasat mata di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Papua.

Menanggapi hal tersebut, PBNU mengajak masyarakat menanggapi fenomena ini sebagai bukti kekuasaan Tuhan. Gerhana bulan adalah fenomena astronomis biasa dan tak ada hubungannya dengan musibah.

Hal ini dikatakan Ketua Lajnah Falakiah PBNU KH Ghozalie Masroeri untuk menghindari kesesatan nalar tentang cerita-cerita rakyat yang mengatakan bahwa akan terjadi sebuah musibah ketika fenomena gerhana terjadi.

"Terjadinya gerhana bulan dan matahari itu tak ada hubungannya dengan kematian, kesengsaraan, dan musibah. Itu adalah peristiwa astronomis, peristiwa alam yang menunjukkan bukti kekuasaan Allah dan harusnya dapat meningkatkan keimanan kita," ujarnya kepada okezone, Rabu (15/6/2011).

Kiai Ghozalie juga menganjurkan, sesuai dengan ajaran agama, setiap orang yang melihat gerhana bulan untuk melakukan salat sunah dua rakaat. Sambil bercanda dia juga mengatakan bahwa gerhana bulan ini tak ada hubungannya dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, apalagi kasus Nazaruddin.

"Lalu untuk yang melihat gerhana bulan itu diimbau untuk melakukan salat sunah gerhana dan melakukan kepedulian sosial, misalnya bersedekah. Jadi ini tak ada kaitannya dengan yang terjadi akhir-akhir ini, apalagi soal Nazarudin," candanya.(Okezone)

Tuesday, June 14, 2011

Bagaimana Black Hole Terbentuk ?

Black hole atau lubang hitam merupakan fenomena luar angkasa yang terjadi saat sebuah bintang yang memiliki ukuran sangat besar, sampai puluhan kali lipat ukuran Matahari kita tiba di akhir masa hidupnya.
http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/11/17/99806_posisi-black-hole-sn-1979c-di-galaksi-bimasakti_300_225.jpg
Posisi black hole SN 1979C di galaksi Bimasakti (tgdaily.com)

Di penghujung hidupnya, jika bintang itu memiliki ukuran yang cukup raksasa, itu akan meledak sangat dahsyat. Ledakan ini disebut juga sebagai supernova yang akan membentuk lubang hitam.

Saat bintang meledak, tekanan yang ditimbulkan dari inti bintang tersebut sangat hebat sehingga ia menghisap dirinya sendiri dan kemudian segala sesuatu yang berada di sekelilingnya dan menyimpan material-material itu di sebuah ruang antah berantah.

Menurut penelitian, lubang hitam sendiri terdapat di seluruh galaksi. Bahkan di galaksi tertentu, terdapat lebih dari satu lubang hitam.

Tiga Hari Lagi, Gerhana Bulan Total



Tiga hari lagi, tepatnya Kamis (16/6/2011) dini hari, gerhana bulan total akan terjadi dan dapat disaksikan di Indonesia. Gerhana akan dimulai pada pukul 00.25 WIB dan berakhir pada pukul 05.59 WIB. Berdasarkan publikasi NASA, totalitas atau kondisi saat bulan tak tampak sama sekali akan berlangsung selama 100 menit, dari pukul 02.22 WIB - 04.02 WIB.


http://2.bp.blogspot.com/__cEmql26ECc/TR6i4NrTQ6I/AAAAAAAAALU/qDF6p5iKZa8/s400/gerhana-bulan1.jpg

Gerhana bulan total kali ini bisa disaksikan di wilayah Eropa, Afrika, Amerika Selatan, Australia dan Asia, termasuk Indonesia. Wilayah timur Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan barat Australia bisa menyaksikan keseluruhan tahap gerhana. Di Indonesia, wilayah yang keberuntungan yang sama adalah Sumatra, Jawa, Kalimantan dan sebagian Nusa Tenggara.

Pengamat di Eropa akan kehilangan tahap awal gerhana sebab saat tahap itu terjadi sebelum bulan terbit. Sementara, pengamat di wilayah timur Asia, timur Australia dan Selandia baru akan kehilangan tahap akhir gerhana karena pada tahap itu Bulan sudah tenggelam. Wilayah Amerika Utara kurang beruntung sebab tak bisa menyaksikan seluruh gerhana ini.

http://ceritalucurakyat.files.wordpress.com/2010/12/gerhana-bulan_image.jpg

Durasi totalitas gerhana kali ini akan menjadi salah satu yang terpanjang dalam 100 tahun. Dalam publikasi Space.com (11/6/11), totalitas gerhana yang bisa menandingi terjadi pada 16 Juli 1935 selama 101 menit, 6 Juli 1982 dan 16 Juli 2000 selama 107 menit. Totalitas gerhana yang panjang berikutnya diperkirakan terjadi 27 Juli 2018 selama 106 menit.

Gerhana Bulan terjadi saat Matahari, Bumi dan Bulan terjadi pada satu garis lurus dimana Bumi berada diantara Matahari dan Bulan. Tak seperti gerhana Matahari, gerhana bulan aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa perlu pelindung. Namun, karena terjadi tengah malam, maka pengamat disarankan istirahat terlebih dahulu.

Berkaitan dengan gerhana bulan total ini, astronom amatir Ma'rufin Sudibyo dalam halaman Facebook-nya memberitahukan penyelenggaran acara "Nonton Bareng Gerhana Buklan Total 16 Juni 2011" mulai pukul 01.23 WIB. Acara tersebut berlangsung di Masjid Asy-Syifa di kompleks RSU Muhammadyah Gombong, Jawa Tengah.

http://alzyress.files.wordpress.com/2009/11/789px-geometry_of_a_total_solar_eclipse-svg.png

Sebelum pengamatan, Ma'rufin juga akan menyampaikan ulasan bertema "Seluk Beluk Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 serta Simulasi 1 Ramadan dan 1 Syawal 1432 H/2011". Sementara sholat gerhana juga akan digelar menjelang waktu subuh. Teleskop dengan kamera dan terhubung layar dan TV internal akan digunakan sehingga pengamat bisa melihat tanpa perlu berebut teleskop.

Observatorium Bosschajuga akan memanfaatkan momentum gerhana bulan total ini untuk melakukan pengamatan. Namun, sampai saat ini belum ada rencana menggelar nonton bersama menggunakan teleskop seperti gerhana bulan sebelumnya mengingat waktu gerhana yang terjadi dini hari yang sudah pasti sangat dingin di Lembang, Bandung.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg6Sia5pCH2gb5H39YshqLGnbXrudHYQplULd6uPiEtwTnpFeRcj8xAX6WsCdY0OUeZAl8DOyrGxO4O4clnx6ZIRH-5ECBMBxpiVjRy-VtavmvfUaA1Lk0Py87BCARBa-wt4WRMI53__U/s1600/gerhana+matahari+dan+bulan.jpg




sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9139639

Sunday, June 12, 2011

Seberapa Jauh Ujung Tata Surya?

Satelit Voyager yang sedang berada di pinggir tata surya. (NASA)

VIVAnews - Saat ini, satelit Voyager 1 dan Voyager 2, dua buah pesawat ruang angkasa yang diberangkatkan dari Bumi pada tahun 1977 lalu, sedang menuju keluar dari tata surya.

Kedua satelit kini tengah melewati ujung dari gelombang magnetik yang jaraknya sekitar 9 miliar mil atau sekitar 15 miliar kilometer dari Bumi. Jarak itu tentu merupakan jarak yang sangat jauh. Akan tetapi jarak sejauh itu juga cukup sulit dibayangkan.

Berikut ini gambaran berapa jauh 15 miliar kilometer, menurut perhitungan para peneliti, dikutip dari Life’s Little Mysteries, 11 Juni 2011.

Pesawat terbang yang bergerak dari Los Angeles di barat Amerika Serikat ke New York yang ada di timur Amerika Serikat atau sebaliknya, menempuh jarak sekitar 3.983 kilometer. Artinya, jika satelit Voyager mengambil rute tersebut, ia telah melakukan sekitar 3 sampai 4 juta perjalanan bolak-balik.

Jika dibandingkan dengan jarak antara Bumi dengan Bulan yang rata-rata mencapai 384.403 kilometer, artinya kedua satelit itu telah bolak balik antara Bumi dan Bulan sebanyak lebih dari 37 ribu kali.

Matahari sendiri memiliki jarak sekitar 150 juta kilometer dari kita. Adapun ujung tata surya kita, dan juga satelit Voyager yang sedang berjalan di sekitar kawasan tersebut, kini mencapai 97 kali lebih jauh jaraknya dibanding Bumi dan Matahari. (Vivanews.com)

Saturday, June 11, 2011

2 Black Hole Besar Ditemukan di Pusat Galaksi

Black hole atau lubang hitam kembar yang ditemukan di galaksi Markarian 739. (space.com)

VIVAnews - Dari sebuah penelitian lebih lanjut, astronom mendapati bahwa Markarian 739, sebuah galaksi yang berjarak sekitar 425 juta tahun cahaya dari Bumi ke arah konstelasi Leo memiliki tidak cuma satu black hole raksasa, melainkan dua buah black hole di pusat galaksi itu.

Kehadiran galaksi kedua ini terdeteksi oleh satelit Swift dam Chandra X-Ray Observatory milik NASA.

Meski kedua lubang hitam itu berada di pusat galaksi, keduanya terpisah dengan jarak sekitar 11 ribu tahun cahaya atau sekitar sepertiga jarak tata surya kita dengan pusat galaksi Bima Sakti. Sebagai gambaran, satu tahun cahaya berjarak sekitar 10 triliun kilometer.

Kedua black hole yang ditemukan itu juga merupakan black hole yang sangat aktif dan masuk ke dalam klasifikasi ‘supermassive’ yang artinya, masing-masing memiliki massa yang sama dengan jutaan atau bahkan miliaran kali lipat massa bintang seperti Matahari kita.

Padahal, black hole biasa yang terbentuk akibat hancurnya bintang raksasa hanya berukuran 10 sampai 20 kali lipat dibandingkan dengan massa Matahari.

“Di pusat sebagian besar galaksi raksasa, termasuk Bima Sakti, berada sebuah supermassive black hole yang memiliki bobot jutaan kali lipat dibandingkan dengan massa Matahari,” kata Michael Koss, peneliti dari NASA, seperti dikutip dari Space, 11 Juni 2011. “Sebagian di antaranya memancarkan radiasi miliaran kali lebih besar dibanding energi Matahari,” ucapnya.

Namun demikian, Koss menyebutkan, meski supermassive black hole merupakan fenomena yang umum yang hadir di pusat galaksi, tidak semua black hole memancarkan energi radiasi yang disebut dengan ‘active galactic nuclei (AGN). “Dengan demikian, mendapatkan sebuah black hole raksasa yang aktif sangat langka. Apalagi menemukan dua buah black hole raksasa dalam satu galaksi,” ucapnya.

Astronom menduga bahwa sepasang supermassive black hole ini terbentuk saat ada galaksi yang hancur.

“Jika dua buah galaksi saling bertabrakan, dan masing-masing memiliki sebuah supermassive black hole, ada kemungkinan bahwa kedua black hole menjadi aktif sebagai AGN,” kata Richard Mushotzky, peneliti lain dari University of Maryland. (Vivanews.com)

Wednesday, June 8, 2011

Subscribe: Wednesday, June 8, 2011 Tanggal 16 Juni 2011 Gerhana Bulan Lebih Spektakuler

Tahun ini akan terjadi dua kali gerhana bulan total yang bisa terlihat di Indonesia, yaitu pada 16 Juni dan 10 Desember 2011. Saat itu, bulan akan muncul dengan warna baru dan mengalami proses gerhana yang cukup panjang. “Spektakuler untuk disaksikan,” kata Direktur Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat, Hakim L. Malasan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrrGgyyJD2qYe-_Gy0NHFO4p0Z1HcLZPrDced5FSRxPCty3Pc_4aQRuj4f0klvO42dB3FzxOroJ1_tRdT51whyphenhyphen4aO1VxocosmMuJKwTQqBJ_ixgpw-CKocWDY54B0E2ETXYa07oTUPH6WZ/s320/lunar+eclipse.jpg
Ilustrasi

Gerhana bulan total akan terjadi pada 16 Juni dini hari dan bisa disaksikan dari seluruh wilayah di Indonesia. Di Indonesia bagian barat, proses gerhana akan dimulai pukul 01.25 hingga 05.04 WIB. “Bulan akan mulai tertutup pukul 02.25 dan totalnya pada 03.14 WIB”, ujarnya.

Hakim mengatakan, proses gerhana ini cukup lama atau panjang dibanding gerhana bulan total biasanya karena terjadi dini hari hingga menjelang fajar. Ia juga menyarankan umat Islam agar melakukan sholat gerhana dulu sebelum subuh. “Biasanya gerhana bulan pada malam hari, kali ini menjelang pagi” katanya.

Fenomena alam itu rencananya akan disiarkan langsung lewat Internet oleh Observatorium Bosscha bersama jaring pengamatan hilal dan pemerintah yang bakal melakukan uji coba streaming baru. Kerjasama ini, kata Hakim, melibatkan observatorim di Yogyakarta, Aceh, Pakanbaru, Lapan di Pameungpeuk, dan Mataram. “Direkam dengan teropong, lalu disiarkan di Internet,” ujarnya.

Menjelang 1 Ramadhan atau puasa, momen gerhana juga akan dipakai untuk uji coba penghitungan hisab. Adapun bagi para astronom, gerhana bulan total bisa dimanfaatkan untuk melihat tingkat kebersihan atau kekotoran atmosfer.

Saat gerhana bulan, kata Hakim, cahaya matahari masih dapat menerobos celah atmosfer bumi hingga sampai ke bulan. Akibatnya di langit, bulan tidak tampak hilang atau berwarna hitam penuh seperti saat gerhana matahari total. “Cahaya bulan hanya redup saja, kemerahan. Itu akan jadi ukuran kotornya atmosfer kita,” ujarnya.

Dampak gerhana bulan total ini ke bumi hanya pada pasang surut laut. Menurut Hakim, gerhana tersebut juga bisa disaksikan penduduk negara lain di sekitar Indonesia hingga Mikronesia dan India.

Adapun gerhana bulan total kedua tahun ini akan terjadi pada 10 Desember 2011. Berbeda dengan gerhana 16 Juni, pada akhir tahun itu gerhana akan muncul sebelum tengah malam. Waktunya, kata Hakim, dimulai pukul 19.46 WIB. Total gerhana terjadi pukul 21.04 dan selesai 23.17.

Monday, June 6, 2011

Proses Terbentuknya Bulan 4 Miliar Tahun yang Lalu

Teori ‘Giant Impact’ merupakan hipotesa bagaimana proses terbentuknya bulan. Ilmuwan berteori, Bulan terbentuk akibat bergabungnya serpihan-serpihan pecahan Bumi yang ketika itu masih muda bertabrakan dengan benda langit berukuran sebesar planet Mars.

http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/05/27/112005_giant-impact--teori-bagaimana-terbentuknya-bulan_300_225.jpg


Salah satu bukti yang mendukung hipotesa ini adalah contoh-contoh bebatuan yang diambil para astronot saat mengunjungi Bulan. Dari bebatuan itu, terindikasi bahwa permukaan Bulan sebelumnya berbentuk cair dan kemungkinan ia memiliki inti kecil dari besi dengan kepadatan yang lebih rendah dibanding Bumi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4tRdvTjzXGTP_VZTkuW9aHncXktPcsMzcGF3StcELNBNtjQFaoWEr6gn9nEUWFW1sOmnOxD0DCGbD331blU6cLSZ-qCkGCntGkYTSaM5qISalwoAdrNmukQQp3SAeuHpbjzpuuEtqjYM/s400/moon-surface.jpg

Adapun benda langit yang menghantam Bumi disebut sebagai Theia, diambil dari nama dewi bangsa Yunani, yang merupakan ibu dari Selene, dewi Bulan.

Menurut teori Giant Impact, Theia terbentuk bersama dengan planet-planet lainnay di tata surya sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Ia mengitari Matahari dalam orbit yang kurang lebih sama dengan Bumi sekitar 60 derajat di depan atau di belakang Bumi.

Stabilitasnya dalam mengitari Bumi kemudian terganggu karena Theia kemudian tumbuh melampaui batas maksimal 10 persen massa planet Bumi. Akibatnya, gaya gravitasi membuat Theia meninggalkan posisi orbitnya dan mendekati Bumi lalu saling bertabrakan.

https://fisan.files.wordpress.com/2006/10/bulan-terbelah-1.jpg

Menurut para astronom, tabrakan antara Bumi dan Theia terjadi sekitar 4,53 miliar tahun lalu, atau sekitar 30 sampai 50 juta tahun setelah terbentuknya sistem tata surya. Akan tetapi, dari bukti-bukti terakhir, terindikasi bahwa tabrakan itu terjadi lebih lambat, yakni 4,48 miliar tahun lalu.



sumber :http://www.apakabardunia.com/2011/05/proses-terbentuknya-bulan-4-miliar.html

Thursday, June 2, 2011

Astronomi Teleskop Rekam Tabrakan Antargalaksi

Teleskop Spitzer dan wahana antariksa Galaxy Evolution Explorer (GALEX) berhasil menangkap citra tabrakan antargalaksi dari awal sampai selesai. Peneliti Harvard Smithsonian Center for Astrophysics yang melakukan observasi ini, Lauranne Lanz, mempresentasikan citra tersebut dalam American Society Meeting di Boston.

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/05/29/1623109620X310.jpg

Dua galaksi yang bertabrakan adalah NGC 935 dan IC 1801. Pengamatan astronom memperlihatkan bahwa saat dua galaksi tersebut bertabrakan dan membentuk galaksi yang lebih besar, kehancuran memacu terbentuknya awan gas dan debu. Selanjutnya, tabrakan akan memacu terbentuknya lebih banyak bintang.

"Citra ini adalah langkah pertama untuk mengetahui cerita bagaimana galaksi terbentuk, berkembang, dan berevolusi," kata Lanz. Menurut dia, gambar ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mungkin terjadi ketika galaksi Bimasakti dan Andromeda bertabrakan 5 miliar tahun mendatang.

Dalam pengambilan citra, GALEX berperan mengemisikan sinar ultraviolet untuk mencitrakan bintang muda dalam warna biru. Sementara teleskop Spitzer yang mengemisikan sinar inframerah mengiluminasi debu yang terpanaskan dalam warna merah. Paduan dua alat itulah yang menghasilkan data yang kaya.

Lanz mengatakan, dalam setiap tabrakan galaksi, jumlah bintang yang dihasilkan akan bervariasi. Kini, ia tengah meneliti faktor yang memengaruhi variasi itu. Lanz juga bekerja keras untuk menguji pemahamannya. "Pemahaman kami akan benar-benar dites 5 milIar tahun lagi saat Bimasakti mengalami tabrakan," kata Lanz.






sumber :http://www.apakabardunia.com/2011/06/teleskop-rekam-tabrakan-antargalaksi.html

Wednesday, June 1, 2011

WhiteHole, Fenomena Misterius Alam Semesta (Mungkinkah ini Kebalikan dari BlackHole?)

Anda pernah mendengar black hole? Ia merupakan sebuah celah gelap di ruang angkasa yang menghisap seluruh benda yang ada di sekelilingnya dan melemparnya ke ruang ketiadaan. Kini sejumlah ilmuwan menyebutkan bahwa pernah ada bukti akan adanya lawan dari black hole.

Kebalikan dari black hole, white hole atau lubang putih tidak menghisap benda di sekeliling namun memuntahkan material yang berasal dari tempat antah berantah ke alam semesta kita.

Alam semesta kita sendiri merupakan tempat yang aneh, dan lubang hitam merupakan salah satu hal yang paling aneh yang hadir di dalamnya. Namun secara matematik, lubang hitam harusnya bisa dibalikkan, artinya, ada sesuatu yang memuntahkan material, tidak menghisapnya.


ilustrasi whitehole

Dikutip dari Dvice, lubang putih beroperasi dengan modus yang berbeda dengan lubang hitam. Mereka mendadak muncul untuk masa waktu yang singkat. Mereka kemudian melontarkan sejumlah material ke alam semesta lalu mereka sendiri runtuh, membentuk lubang hitam dan kemudian tidak pernah tampak lagi.

Perilaku lubang putih seperti ini sangat sulit untuk diamati. Namun peneliti yakin bahwa mereka telah menemukan salah satu di antaranya.

Pada tahun 2005 lalu, sebuah tembakan sinar gamma berhasil terekam namun ia tidak hadir bersama dengan supernova yang umumnya memicu hadirnya lontaran sinar gamma tersebut. Ada kemungkinan, ia hadir akibat runtuhnya sebuah lubang putih.

Yang menarik seputar lubang putih adalah pembentukan material mereka serupa dengan apa yang disebut Big Bang, atau yang disebut-sebut merupakan fenomena terbentuknya seluruh alam semesta. Ini membuat white hole disebut juga sebagal ‘Small Bangs’.

White hole tidak memiliki koordinat ruang dan waktu yang pasti dan tidak bisa dideteksi sama sekali. Mereka bisa secara mendadak muncul kapan saja, di mana saja dan melakukan aktivitas mereka sebelum kembali menghilang.

Sejauh ini, keberadaan white hole memang masih bersifat dugaan. Akan tetapi, black hole juga hanya merupakan dugaan sampai keberadaannya benar-benar diketahui pada beberapa dekade terakhir. Dan seperti yang diucapkan oleh fisikawan Murray Gell-Mann, apapun yang tidak dilarang adalah wajib. Artinya, setidaknya dari sudut pandang mekanikal kuantum, lubang putih pasti ada di salah satu sudut alam semesta.

Wednesday, May 25, 2011

Energi Gelap Bikin Semesta Mengembang


Kluster galaksi yang dipotret Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Dark Matter atau materi hitam adalah jenis materi yang mengisi alam semesta namun masih dulit diobservasi.

KOMPAS.com — Survei selama lima tahun pada 200.000 galaksi membuktikan bahwa energi gelap terbukti membuat semesta mengembang dengan percepatan tertentu. Penemuan itu didasarkan pada observasi menggunakan wahana Galaxy Evolution Explorer NASA dan Anglo Australian Telescope di Siding Spring Mountain, Australia.

Awalnya, astronom menggunakan peta galaksi 3D hasil pencitraan Galaxy Evolution Explorer. Selanjutnya, dengan Anglo Australian Telescope, astronom mencari pola jarak antargalaksi, jarak galaksi dengan Bumi, dan kecepatan galaksi menjauh dari Bumi. Dengan peta galaksi, astronom juga mempelajari bagaimana kluster galaksi berkembang.

Berdasarkan analisis, jarak antargalaksi pada permulaan semesta sekitar 500 juta tahun cahaya. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa jarak antargalaksi tersebut semakin menjauh. Gravitasi pada kluster galaksi menarik galaksi-galaksi baru, tetapi energi gelap seolah justru mendorongnya keluar.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa energi gelap adalah konstan secara kosmologis. Chris Blake, pimpinan investigasi dari Swinburne University of Technology, Melbourne, mengatakan, "Aksi energi gelap seperti ketika Anda melempar bola ke udara dan menjaganya tetap bergerak semakin cepat ke atas."

Penemuan ini mendukung teori bahwa energi gelap bertindak sebagai gaya konstan yang secara tetap memengaruhi semesta, membuatnya mengembang. Sekaligus, hasil ini membantah teori alternatif bahwa penyebab mengembangnya semesta adalah gravitasi yang bertindak sebagai gaya dorong ketika jarak antarbenda jauh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Royal Astronomy Society. Energi gelap sendiri adalah bentuk energi yang mendominasi semesta, terdiri atas sekitar 74 persen. Materi gelap yang sampai saat ini masih misterius berjumlah 22 persen di semesta. Sementara materi "normal" yang kita kenal, seperti yang menyusun makhluk hidup, hanya 4 persen.

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1389206/Dark-energy-DOES-exist-increasingly-driving-universe-apart-scientists-claim.html

Saturday, May 21, 2011

Jejak Astronomis di Borobudur

ejak Astronomis di Borobudur - Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya menunjukkan kemampuan rancang bangun nenek moyang bangsa Indonesia yang mengagumkan. Penempatan stupa terawang maupun relief di dinding Borobudur ternyata menunjukkan penguasaan mereka terhadap ilmu perbintangan alias astronomi.

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/27/1635162620X310.jpg

Penelitian selama 2,5 tahun yang dilakukan Tim Arkeoastronomi Borobudur, Institut Teknologi Bandung, menunjukkan, stupa utama candi Buddha terbesar di dunia itu berfungsi sebagai gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari. Stupa utama yang merupakan stupa terbesar terletak di pusat candi di tingkat 10 (tertinggi).

Stupa utama dikelilingi 72 stupa terawang yang membentuk lintasan lingkaran di tingkat 7, 8, dan 9. Bentuk dasar ketiga tingkat itu plus tingkat 10 adalah lingkaran, bukan persegi empat sama sisi seperti bentuk dasar pada tingkat 1 hingga tingkat 6.

Jumlah stupa terawang pada tingkat 7, 8, dan 9 secara berurutan adalah 32 stupa, 24 stupa, dan 16 stupa. Jarak antarstupa diketahui tidak persis sama. Pengaturan jumlah dan jarak antarstupa diduga memiliki tujuan atau makna tertentu.

'Jatuhnya bayangan stupa utama pada puncak stupa terawang tertentu pada tingkatan tertentu menunjukkan awal musim atau mangsa tertentu sesuai Pránatamangsa (sistem perhitungan musim Jawa),' kata Ketua Tim Arkeoastronomi ITB Irma Indriana Hariawang.

Tim beranggotakan satu dosen dan empat mahasiswa Astronomi ITB, satu mahasiswa Matematika ITB, dan seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Temuan mereka dimuat dalam prosiding 7 International Conference on Oriental Astronomy di Tokyo, Jepang, pada September 2010.

Sumber :
M Zaid Wahyudi - sains.kompas.com

Friday, May 20, 2011

Foto Ledakan Bintang yang Mati

1. Garis X-ray Di Supernova Tycho


Gambar ini berasal dari Observasi Chandra yang sangat mendalam dari sisa-sisa super Tycho. X-ray bertenaga rendah (warna merah) memperluas puing-puing ledakan. Sedangkan X-ray warna Biru menunjukkan gelombang ledakan. Supernova seperti ini tidak pernah dilihat sebelumnya.


2. Supernova Casseopia A


Gambar ini menyajikan komposit sinar-X dari Chandra (merah, hijau, dan biru) dan data optik dari Hubble (emas) dari Cassiopeia A, sisa-sisa bintang raksasa yang meledak dalam supernova.

Inset : Sebuah guntingan dari interior bintang neutron, dimana kepadatan meningkat dari kerak (oranye) ke inti (merah) dan akhirnya ke wilayah di mana 'superfluida' ada (bola merah dalam).


3. Bukti Keberadaan Black Hole


Gambar Komposit menunjukkan supernova dalam galaksi M100 yang mungkin mengandung lubang hitam termuda yang dikenal di lingkungan kosmik kita. Lubang hitam ini lahir dari SN1976C supernova.


4. Bintang Meledak Menjadi Debu


Saat meneliti langit menggunakan teleskop, astronom Universitas Ohio State menemukan sebuah bintang sangat besar yang meledak menjadi debu. Kejadian ini membuktikan bahwa ada bintang yang sangat terang di luar galaksi kita.


5. Supernova Sharpnell di Dalam Meteroit


Gambar ini menggabungkan data yang diambil dalam sinar-X. Nicolas Dhaupas, dai Univeritas Chicago, telah menganalisa kejadian ini dan memperkirakan bintang ini sudah berumur 4,5 miliar tahun.


6. Bintang Baru Terbentuk


Dalam gambar ini terlihat, partikel-partikel gas dari bintang yang sudah meledak, kembali bersatu membentuk sebuah bintang yang baru.


7. Inti Bintang yang Hilang


Gambar ini diambil dari teleskop Hubble Tahun 2004, dan ada keanehan, yaitu bintang ini tidak memiliki inti sehinggan berbentuk seperti cincin


8. Meledaknya Perut Sebuah Bintang


Team Astronomi dari Universitas Collorado meneliti hubungan antara bintang yang berbentuk cincin dengan Supernova 1987A.


9. Bintang Melepas Peluru Kosmik


Dalam gambar dapat dilihat ada peluru kosmis terlepas dari sebuah bintang yang meledak.


10. Bangkai Bintang Teraspu Angin


Sebuah gambar baru dari sinar-X Chandra NASA Observatory dan Spitzer Space Telescope menunjukkan debu dari sisa-sisa bintang runtuh.

Gambar komposit G54.1 0,3 menunjukkan sinar-X dari Chandra dengan warna biru, dan data dari Spitzer dalam warna hijau (panjang gelombang lebih pendek inframerah) dan merah-kuning (lagi panjang gelombang inframerah).

Para ilmuwan berpikir bahwa pulsar (sumber putih di tengah) sedang tersapu oleh angin yang memanas sisa debu supernova.


11. Perbandingan Dua Ledakan


Gambar kiri ledakan bintang besar, dan gambar kanan ledakan bintang kecil. Ledakan bintang kecil lebih simetris, sedangkan ledakan bintang besar tidak simetris (asimetris).


12. Ledakan Stellar


Gambar komposit X-ray dan data optik menunjukkan sisa Supernova.


sumber : http://www.apakabardunia.com/2011/05/foto-foto-menakjubkan-dari-ledakan.html

Thursday, May 19, 2011

Ditemukan, Planet Raksasa Tanpa Bintang

Para ahli astronomi mengatakan bahwa mereka telah menemukan planet-planet raksasa yang tidak memiliki bintang induk.

Setelah melakukan pencarian selama dua tahun, ditemukan 10 planet raksasa berukuran Jupiter di bintang terdekat, namun beberapa di antaranya mengambang bebas di galaksi Bima Sakti, alias tidak memiliki bintang induk. Demikian seperti yang dikutip dari AFP.

http://i.okezone.com/content/2011/05/19/56/458621/l9Ho1r7uJV.jpg
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal sains Nature, memberikan pandangan baru atas pengetahuan mengenai planet. Ada lebih dari 500 planet tanpa bintang yang ditemukan sejak tahun 1995, namun penemuan ini adalah kali pertama ditemukan sebuah planet tanpa bintang yang berukuran raksasa.

Teori planet menyebutkan bahwa planet terbentuk dari debu dan gas dari bintang mereka. Jurnal Nature menyebut bahwa planet-planet tanpa bintang ini mungkin adalah planet yang memiliki jarak sangat jauh dari bintang mereka, hingga tidak lagi terpengaruh oleh gravitasi bintang induknya.

Penelitian yang ditulis dalam jurnal sains Nature tersebut, ditulis oleh dua tim yang menggunakan gravitasi tingkat mikro untuk menganalisis 10 juta bintang di galaksi Bima Sakti dalam kurun waktu dua tahun.

Sumber : Ditemukan, Planet Raksasa Tanpa Bintang
techno.okezone.com

Astronom Temukan Planet Berorbit Terbalik

Astronom Amerika Serikat (AS) menemukan planet yang memiliki orbit terbalik di sekitar bintang jauh. Planet ini berputar melawan arah orbit bintangnya.

“Planet ini sangat aneh. Bahkan, planet ini lebih aneh lagi mengingat lokasinya yang sangat dekat bintangnya” ungkap astrofisikawan teoritis Frederic A Rasio di Northwestern University.

http://static.inilah.com/data/berita/foto/1514892.jpg

Bagaimana bisa planet dan bintang memiliki orbit berlawanan? “Ini gila, jelas-jelas melanggar gambaran terdasar planet dan formasi bintang”.

Planet raksasa ini disebut ‘Yupiter panas’. Planet ini mengorbit dekat bintang pusatnya dan kedekatannya nampaknya terkait orbit berlawanannya. Rasio dan rekannya menggunakan simulasi komputer skala besar guna membuat model gravitasinya.

Selain itu, mereka juga mencari tahu cara planet di bintang jauh ini membuat Yupiter panas memiliki orbit yang sangat dekat dan berlawanan. “Hal ini menjadi menarik karena orbit yang terbentuk tak akan seperti itu selamanya. Orbit planet ini bisa saja berubah”.

Kami mengira tata surya merupakan hal umum di semesta. Namun, sejak hari pertama, semuanya tampak aneh di sistem planet luar tata surya, lanjutnya. “Mempelajari sistem lain ini memberi kami konteks betapa unik tata surya kita. Kita benar-benar tinggal di tempat yang khusus,” tutupnya.

Sumber : Astronom Temukan Planet Berorbit Terbalik
teknologi.inilah.com

Saturday, May 14, 2011

Angin Pemusnah Galaksi

Observatorium infra merah luar angkasa Herschel milik European Space Agency (ESA) telah mendeteksi pergerakan angin yang terdiri dari molekul gas yang mengalir pergi dari galaksi.

Angin yang sudah dipantau selama bertahun-tahun ini diduga memiliki kekuatan yang cukup untuk memusnahkan galaksi yang terdiri dari gas dan menghentikan pembentukan bintang sejak dini.

http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/05/11/110729_hembusan-angin-penyebab-rusaknya-galaksi_300_225.jpg

Angin yang dideteksi Herschel tersebut sangat luar biasa. Sebagian bertiup sangat kencang, dengan kecepatan lebih dari 1.000 kilometer per detik. Angin ini 10 ribu kali lebih cepat dibandingkan dengan badai yang berhembus di Bumi.

“Ini kali pertama aliran gas molekular seperti itu bisa diamati dengan jelas dalam sebuah galaksi,” kata Echard Sturm, peneliti dari Max-Planck Institut, yang mengetuai penelitian, seperti dikutip dari Daily Galaxy.

Temuan ini, kata Sturm, merupakan hal yang penting karena bintang terbentuk dari gas molekular. Sementara aliran angin ini mencuri bahan-bahan milik galaksi yang dibutuhkan untuk membuat bintang baru. “Jika hembusannya cukup kuat, mereka bahkan bisa menghentikan total pembentukan bintang,” ucapnya.

“Dengan Herschel, kini kita bisa mempelajari apa pengaruh hembusan angin ini terhadap evolusi galaksi,” sebut Sturm.

Dari penelitian, disimpulkan bahwa hingga 1.200 kali lipat massa Matahari kita hilang setiap tahunnya akibat hembusan angin dahsyat tersebut.

Jumlah itu sama dengan terkurasnya persediaan gas milik galaksi untuk membentuk bintang antara satu sampai 100 juta tahun ke depan. Padahal, gangguan terhadap pembentukan bintang memiliki efek buruk pada galaksi tersebut.

Angin ini sendiri bisa jadi disebabkan oleh pengeluaran partikel dan cahaya yang sangat intens dari sebuah bintang baru atau bisa juga oleh gelombang kejut yang berasal dari ledakan bintang tua.

Alternatif lain, angin bisa dipicu oleh radiasi yang diakibatkan oleh zat-zat yang berputar kencang di sekitar lubang hitam, di tengah-tengah galaksi.

Saturday, May 7, 2011

Bukti-Bukti Kehidupan Awal Bumi Ada di Bulan

Mengetahui bagaimana kehidupan dimulai di planet Bumi adalah salah satu target utama ilmu pengetahuan. Sejumlah peneliti asal Inggris memiliki teori baru. Mereka yakin kunci untuk mengetahui misteri bentuk kehidupan awal di Bumi justru berada di bulan.

http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/05/05/110349_ilustrasi-asteroid-berukuran-raksasa-menghantam-permukaan-bumi-_300_225.jpg

Peneliti menyebutkan, batu-batuan yang berasal dari planet Bumi terlempar ke bulan saat asteroid membombardir Bumi dan inner planet (planet paling dekat dengan Matahari) lainnya.

Sebagai informasi, sekitar 4 miliar tahun lalu, terjadi fenomena hujan meteor yang disebut sebagai Late Heavy Bombardment. Ketika itu, planet Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars dihujani oleh ribuan asteroid dan meteorit yang menghantam permukaan planet.

Fenomena sangat mengerikan yang berlangsung selama 300 juta tahun itu memiliki efek beragam pada planet-planet yang ketika itu masih muda, salah satunya adalah pelontaran miliaran ton material dari permukaan planet ke luar angkasa.

Pada kasus Bumi, sebagian material itu kemungkinan berhasil tiba di Bulan. Hipotesis ini sangat masuk akal, mengingat di kutub selatan Bumi pernah dijumpai meteorit yang terbukti berasal dari planet Mars.

Untuk itu, sangatlah mungkin berasumsi bahwa planet-planet terdalam saling bertukar material saat Late Heavy Bombardment. Demikian pula dengan Bumi dan Bulan yang juga saling bertukaran material.

http://bareka.files.wordpress.com/2010/04/bulan.jpg

Menurut sejumlah pakar dari University of London Birkbeck College School of Earth Sciences, material milik Bumi itu telah mendarat di Bulan dengan mulus sehingga memungkinkan tanda-tanda biologis tetap tersimpan dengan baik.

Dikutip dari Softpedia, tim peneliti yang diketuai oleh Ian Crawford dan Emily Baldwin menyebutkan, tanda-tanda biologi itu justru tidak akan mampu bertahan di Bumi karena besarnya dampak tumbukan meteor, erosi akibat angin dan hujan, aktivitas volkanik, gempa bumi, dan penguasaan habitat oleh spesies makhluk hidup lain.

Dalam sejumlah simulasi komputer, tim peneliti menunjukkan sebongkah material yang terpental ke arah Bulan akibat tumbukan asteroid pada bumi akan mendarat di permukaan Bulan dengan kecepatan 2,5 kilometer per detik atau kurang. Dengan temperatur yang ada di Bulan, tidak ada bagian dari material itu yang mendekati tekanan puncak yang mengakibatkan material itu meleleh.

Sayangnya, teori baru ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah sampai manusia kembali pergi ke Bulan, mengumpulkan sampel bebatuan dari sejumlah lokasi, dan membawa pulang ke Bumi untuk dianalisa secara mendalam. Namun, melakukan penelitian seperti itu akan memberikan kita pengetahuan yang luar biasa akan sejarah kehidupan di planet Bumi.


http://fisan.files.wordpress.com/2006/10/bulan-terbelah-1.jpg



sumber :http://www.apakabardunia.com/2011/05/bukti-bukti-kehidupan-awal-bumi-ada-di.html