Android menjadi perbincangan paling panas di dunia seluler sepanjang tahun ini. Pada bulan Juli saja, sedikitnya ada enam gadget anyar berbasis Android yang diperkenalkan kepada publik.
Meroketnya platform open source besutan Google ini direspon positif oleh para pengembang aplikasi mobile di dunia. Tidak terkecuali di Indonesia yang memiliki komunitas bernama ID-Android. Berawal dari mailing list, mereka bertukar pikiran dan berbagi ide untuk membangun aplikasi. Nama mereka makin terdengar berkat dukungan dari beberapa operator papan atas.
Salah satunya, Indosat yang menyelenggarakan kompetisi aplikasi mobile. Tahun lalu, kategori Android dijuarai aplikasi Ultraport, hasil karya Antonius Andry – salah satu pentolan ID-Android. Aplikasi ini berfungsi untuk menunjukkan peta kemacetan lalu lintas lewat ponsel. Karya lain kreasi Andry antara lain Courier (info tarif dan tracking jasa kurir), Schedule To Go (pengingat ulang tahun), dan RSS Cockpit.com (news feed).
Andry sendiri sebetulnya belum terlalu lama mengenal Android. Tapi, pengalamannya di dunia pengembangan aplikasi mobile memang sudah cukup panjang. Bersama beberapa teman sesama alumni Teknik Informatika ITB, ia mendirikan perusahaan pengembangan aplikasi mobile, I-Moov, pada tahun 2004. Dua proyek yang pernah mereka kerjakan yakni Zipzap (aplikasi layanan jejaring sosial dan direktori kota) dan sebuah aplikasi chatting untuk salah satu operator.
Saat ini, I-Moov menerima pesanan aplikasi mobile dalam berbagai platform, meliputi Java, BlackBerry, Symbian, Android, dan iPhone. “Tapi ke depan, rencananya kami akan berfokus pada BlackBerry dan Android saja,” ujar Andry saat diwawancara
Bagi rekan-rekan pengembang aplikasi mobile lokal, Andry berpesan, “Kembangkan kreativitas untuk menemukan the next mobile application. Apalagi, sumber untuk belajar dan mengembangkan aplikasi mobile banyak tersedia secara gratis di internet.”

No comments:
Post a Comment